Wahai Ibu, Tak Ada Kata Terlambat Untuk Belajar.

Ibu-ibu, jaman sekarang pada masih ada yang nonton film india nggak sih? Sepertinya film-film india mulai ditinggalkan, kalah pamor sekarang dengan film dan drama korea. Emang sih, untuk beberapa hal film korea jauh lebih unggul dibandingkan film india. Namun tetap ada kok film India yang menarik untuk di tonton, Eh tapi di tulisan ini saya bukan ingin mengajak membandingkan keduanya lho..

Kalau saya pribadi, beberapa film india bagi saya tetap menarik karena pesan kritik sosial nya dapat banget, salah satunya film english vinglish. Film yang di produksi tahun 2012 itu, sempat saya tonton dikarenakan saya tertarik dengan synopsis nya.

Film itu bercerita mengenai seorang ibu rumah tangga yang selalu di rendahkan, oleh suami dan anak-anak nya karena ketidakmampuannya berkomunikasi dengan bahasa inggris. Jelas ini membuat si ibu merasa tidak percaya diri dan feeling insecure.

Saat ada kesempatan ke Amerika, mengunjungi adiknya, si ibu mendaftarkan dirinya ikut kursus bahasa inggris dari uang usahanya berjualan ladoo. Sehingga akhirnya, dia berhasil menguasai bahasa inggris, mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan mengubah persepsi keluarga nya yang selalu merendahkannya.

Film ini juga membuat saya teringat kenangan masa lalu, saat masih belum punya anak, dan masih kuliah di bagian perkembangan. Salah seorang klien saya, seorang ibu yang kebetulan janda, beradu argumen dengan anak satu-satunya di depan saya. Anak nya saat itu masih duduk di sekolah dasar.

Apa yang mereka perdebatkan menurut saya sepele, si anak tak percaya bahwa bujur sangkar sama dengan persegi. Dia tidak percaya dengan ibu nya, yang menyebut bangun datar tersebut dengan bujur sangkar. Menurut si anak, penyebutannya itu persegi karena gurunya disekolah berkata seperti itu.

Anak ini kebetulan anak yang cerdas, karena sering mendapat juara kelas. Saat itu yang saya ingat, si ibu terlihat kesal dan sedih menyadari anaknya tidak percaya dengan kata-katanya, sampai butuh orang lain untuk meyakinkan anaknya. Menurut si ibu, hal ini sering terjadi, anaknya tidak memiliki kepercayaan mengenai kemampuan si ibu dan lebih percaya kata-kata yang disampaikan oleh oranglain di sekelilingnya.

Sedih? Jelas ibu nya sedih saat itu. Bagaimana seseorang yang dari awal menstimulasi perkembangan dan kemampuan anaknya, the only one significant others (karena si ibu sudah janda) menjadi hilang pengaruhnya saat si anak mulai aktif berkenalan dengan lingkungannya.

Mirisnya, kejadian ini saya amati bukan hanya terjadi pada klien tersebut. Banyak ibu-ibu diluar sana yang mengalami kejadian serupa. Saat anak mulai mandiri, memasuki usia sekolah dan terpapar oleh lingkungan, saat itu pengaruh ibu mulai sedikit demi sedikit berkurang, atau bahkan menghilang.

“Seorang ibu harus jadi sumber inspirasi bagi anak-anak nya” begitu lah salah satu kutipan kata-kata dari ustadz Fauzil Adhim dalam salah satu sesi seminar parentingnya. Kalimat ini jelas begitu menohok dan membuat saya tersadar. Bagaimana saya dan kaum ibu, harus selalu berupaya untuk tidak pernah berhenti belajar, memberdayakan diri, dan selalu meng-upgrade kemampuan. Bagaimana Ibu bisa menjadi sosok yang menginspirasi? rasanya tidak mudah kalau tidak diawali dengan rasa “trust” dari anak.

Sebagai orangtua, jelas saya memiliki keinginan, agar menjadi sosok yang dianggap “mampu” oleh anak-anak. Seorang yang selalu bisa mereka andalkan dan menjadi sosok tempat mereka bertanya dan berdiskusi. Meskipun saya sadari bahwa suatu hari mereka pastinya akan men surpass kemampuan saya dan suami. Saat ini pun, harus diakui sudah beberapa skill dan informasi yang mereka ketahui lebih dibandingkan saya dan suami. Semakin hari tidak bisa di nafikkan gap (jarak) tersebut akan semakin jelas terlihat. Jurangnya akan semakin nyata.

Apa yang harus saya lakukan? pastinya saya tidak ingin meresponnya dengan sikap pasrah atau learned helplessness. Salah satu ikhtiar saya, sebagai ibu, adalah menjaga pengetahuan saya dan anak agar tidak terlalu jauh jaraknya. Saya mencoba untuk tidak pernah lelah belajar hal-hal baru, menggali informasi yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui, dan mencoba mempelajari segala hal yang selama ini bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Saya tidak ingin menjadi sosok ibu yang melakukan self fulfilling atau kata lainnya memberikan label pada dirinya sendiri, bahwa saya memang tidak pantas lagi untuk memberikan masukan atau sekedar menjadi teman diskusinya. Saya ingin “trust” itu tetap terjaga, terlepas saya kelak dianggap nya sebagai sosok yang menginspirasinya atau tidak.

Selain usaha memperbaiki diri dan belajar, tentunya usaha lainnya adalah memperbaiki adab anak. Bagaimana mereka sebaiknya menyampaikan pendapat/ide yang berbeda dari orangtua nya. Bagaimana agar anak mampu menyampaikan pesannya dengan assertive. Jangan sampai terkesan merendahkan orangtuanya, dan merusak kepercayaan diri si orangtua. Baru tau kan, ternyata bukan anak saja loh yang merasa low self esteem dengan perkataan dari orangtua. Orangtua juga ada yang mengalami low self esteem dan low self confidence karena perlakuan dari anaknya.

Jadi kesimpulannya, mari sebagai ibu kita tak pernah berhenti untuk memberdayakan diri kita dengan memperkaya pengetahuan kita. Jangan menyerah dengan label yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita. Belajar juga tidak terbatas dengan sekolah dan gelar, mencari ilmu bisa dimana saja dan kapan saja saat ini. Yuk semaksimal mungkin kita manfaat kan teknologi yang ada dan waktu luang kita. Mari jadi ibu yang berdaya dan menginspirasi❤❤.

13 thoughts on “Wahai Ibu, Tak Ada Kata Terlambat Untuk Belajar.

  1. setujuu mbak, menurut saya perkara mengupgrade diri dengan informasi terkini adalah kewajiban setiap orang. Dan ibu sebagai ‘pendidik’ keluarga memiliki kewajiban tambahan untuk senantiasa mengupdate diri. Dan kebutuhan itu semakin terasa saat belajar daring begini. hehhe jujur saya jadi ikut belajar lagi demi bisa memahami dan membantu anak-anak di pelajaran sekolah.

    Liked by 1 person

  2. Wah setuju banget nih mbak, saya selagi menunggu seseorang datang pun sudah belajar parenting dsb karena saya bertekat mau jadi versi terbaik dari diri saya untuk anak saya nanti, insyaAllah, hehe.

    Karena saya paham betul bahwa peran ibu ini sangat penting dalam suatu keluarga, bahkan yang katanya “hanya” ibu rumah tangga sekalipun tetap butuh ilmu untuk membentuk karakter anak nantinya. Dan ilmu ini gak sekedar terpaku gelar dan pendidikan formal saja tentunya ya 🙂

    Liked by 1 person

  3. Setuju. Saya malah mau komenin film indisnya, hehe … Saya senang film India, yang bukan percintaan dan joget-joget. Betul, kritik sosialnya dapet dibanding film dari negara lain, kalau kata saya.

    Liked by 1 person

  4. Aku juga ngerasain mba.. si kakak yg udah mulai kenal ‘main’ jd lebih gampang keingetan pesen temennya dr pesen mamanya..
    Harus banget evaluasi dan upgrade diri biar bisa terus nemenin anak sesuai masa usianya..

    Like

  5. Setuju banget, justru aku melihat sosok mama ku keren karena mama ku tuh mau aja gitu belajar apapun walaupun umurnya udah ga muda. Ga bisa pake HP, minta diajarin. Pengen main game ini, minta diajarin, sampe belajar ngerajut sendiri lewat youtube. Jadi aku sebagai anak yg malu jarang belajar apapun 🤭

    Like

  6. Betul, belajar itu sampai menutup mata. Tapi mungkin belajar juga bukan untuk menjadi ‘wonder woman’. Akan ada sisi-sisi yg pasti tak akan bisa kita ‘tambal’ sebagai manusia. Buat saya, jika itu terjadi, saya memilih unt mengakuinya dg jujur. Mungkin ini sama dengan yg menjadi tekad para orang tua di pedesaan yg lugu dan seringkali mengatakan, “Supaya kamu bisa lebih baik dari saya,” dalam bekerja keras unt pendidikan anak-anak mereka. Lebih baik saya mengambil porsi mental-spritual karena posisi inilah yg akan terus dibutuhkan, bahkan sampai kapanpun. Dengan begitu kita menempatkan anak sebagai partner kehidupan unt saling mengisi dan menguatkan. Maaf, ini pendapat nenek-nenek. 🙏

    Like

  7. Betul banget, sebagai ibu kita bisa tetap mengikuti perkembangan ilmu dan zaman ya biar nggak dibilang kuno sama anak..belajar hal-hal baru dan tidak mesti di sekolah formal

    Like

  8. Orangtua, bukan hanya ibu, memang harus belajar terus mbak. Semua itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi terutama untuk putra putrinya. Sulit untuk bisa membimbing anak ketika pengetahuan kita tertinggal jauh dari anak-anak kita.

    Soal film India dan Korea, hemm.. saya pikir sih sekedar masalah selera dan budaya saja. Film Korea memang terkesan lebih modern dan glamor, semua itu karena kehidupannya sudah lebih mendekati masyarakat Barat yang dianggap modern.

    Film India sendiri mencerminkan budaya yang ada di sana. Kesannya memang tertinggal dari Korea, tetapi sebenarnya tidak. Cara mereka menganut budaya dan agama mereka lebih strict dan ketat dibandingkan Korea. Jadi sebenarnya yang terlihat di film, itulah India modern hanya karena kiblat modern orang Indonesia adalah Barat, maka film Korea cenderung dianggap lebih maju daripada film India.

    Padahal sebenarnya sama.

    Itu pandangan saya saja sih.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: