Keterampilan Berbicara dan Mengemukakan Pendapat Gen Z dan Alpha, Apa yang Harus Diperhatikan?

Ibu-ibu, punya anak yang memiliki  kemampuan bahasa di atas rata-rata, ceriwis, kritis, pasti harapan semua orangtua. Senang aja kalau dengar, anak-anak  mampu mengekespresikan perasaannya dan menyampaikan ide-idenya.

Sejak sekolah offline, saya sering menjadi pemerhati bagaimana anak-anak berinteraksi dengan guru nya. Rasa penasaran sering muncul untuk mendengarkan bagaimana proses belajar mengajar anak-anak saya berlangsung. Di sekolah mereka saat ini, banyak saya temui anak-anak yang aktif dan berani mengutarakan pendapat. Saat guru bertanya, anak-anak dengan antusias menjawab. Atau sebaliknya, saat mereka tidak paham, mereka tidak segan mengajukan pertanyaan. Berbeda dengan jaman saya sekolah dulu ternyatađŸ€­. Anak-anak sekarang memang tergolong berani dan memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.

Bangga dong pastinya menjadi orangtua dari anak-anak ini. Awalnya saya berpikir seperti ini, dan selalu memotivasi anak saya yang berkarakter pasif  untuk bisa aktif dan kritis menyampaikan idenya saat di sekolah. Dikarenakan menurut saya, hal itu sesuai dengan harapan ataupun tuntutan dari pendidikan yaitu menciptakan generasi yang kritis.

Sampai akhirnya, saya mengamati salah satu anak saya, yang sejak awal memang mengecap pendidikan disini. Anak ini sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya karena dia tergolong berani dan aktif berinteraksi di sekolah. Saat pertanyaan di lemparkan maka dia termasuk salah satu dari beberapa anak yang selalu angkat tangan dan berani menyampaikan pendapatnya.

Jelas sifatnya ini membuat saya cukup senang. Ternyata iklim sekolah disini mampu mengubah anak ini menjadi individu yang berbeda dari saudara-saudaranya. Disini, sekolah selalu menstimulasi anak-anak untuk berani speak up, sejak mereka nursery. Tidak ada judgement disini, bahkan anak-anak selalu di puji meskipun apa yang mereka sampaikan belum tentu benar. Hal ini membuat anak-anak tumbuh dengan kepercayaan diri. Mereka tidak pernah dibayangi rasa takut salah, saat harus menjawab. Selain itu, mereka tidak menganggap guru sebagai sosok dominan yang menyeramkan.

Namun di sisi lain, saat belajar bersama kami orangtuanya. Ada beberapa sikap kerjanya yang kami amati, cukup memberikan kekhawatiran.

Kontradiktif memang, karena di satu sisi, kami senang melihat dirinya selalu berekspresi, memberikan sanggahan kalau menurutnya metode kami tidak sesuai dengan dirinya. Namun di sisi lain, ia tidak punya kesabaran untuk menunggu, senang memotong pembicaraan, dan sering kali bercerita hal-hal yang di luar konteks pelajaran. Kalau saya bilang tergolong impulsif. Seolah ia bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.

Sementara Kakak-kakaknya yang kami label pasif, saat belajar bersama kami, mempunyai sikap kerja yang cukup bagus. Mampu mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberi komentar.

Apa efeknya? Jelas dari sisi proses belajar mengajar menjadi tidak efektif, sering tidak fokus dan lebih banyak memakan waktu saat kami mengajarkannya, karena harus mendengarkan dulu ceritanya yang out of topic. Sikap kerja seperti ini, jelas akan merugikan dirinya sendiri saat ia semakin dewasa.

Dari segi kepribadian, saya juga mengalami kekhawatiran. Bagaimana jika ia dengan begitu gampangnya mengeluarkan isi pikirannya tanpa berpikir terlebih dahulu. Berapa banyak orang disekelilingnya yang bisa tersinggung. Contohnya, saat bertamu ke rumah orang, jangan sampai dengan mudah nya dia menilai hidangan orang lain atau kondisi rumah oranglain. Sesuatu yang tidak pantas untuk diungkapkan, se kritis apapun dirinya. Meskipun saat ini masih tergolong anak-anak, jika tidak dikoreksi saya tidak mau karakter ini berlanjut hingga dia besar.

Dalam hati saya bertanya dan penasaran, Apakah ini terjadi kepada anak-anak saya saja atau memang ini dampak dari sistem yang berlebihan dalam mengapresiasi kemampuan berbicara anak? Sampai suatu hari, secara tidak sengaja saya mendengar salah seorang guru anak saya, saat itu ia terdengar sedikit marah dan menyetop siswa di kelasnya yang sedang berbicara. Ada apa ini, biasanya guru-guru malah senang kalau siswanya aktif.

Akhirnya saya bertanya kepada anak saya, apa yang terjadi di kelas nya tadi siang? Mengapa gurunya terlihat upset kepada temannya? Anak saya menjawab, karena temannya ini selalu  mengangkat tangan dan bertanya hal-hal di luar pelajaran dan Ini terjadi berulang-ulang.

Ternyata ya, kebiasaan positif dalam  melakukan encourage  dan pujian terhadap kemampuan verbal anak, juga memiliki efek negatif kalau tidak disertai dengan pemahaman saat mereka semakin bertambah usianya.  

Anak-anak  ini juga harus diajarkan “mengerem” bukan hanya “nge gas”😅 agar tidak kebablasan kelak. Jangan sampai mereka kehilangan kemampuan mendengarkan saat mereka terbiasa dengan kemampuan mengungkap kan pendapat. Eh ini nasehat untuk diri sendiri juga, karena sebagai orang dewasa saya juga mengakui harus banyak belajar dalam hal tersebutđŸ€­

Selanjutnya ke anak-anak, saya menjelaskan kalau sebagai ibu, saya senang kalau mereka bisa aktif saat mengikuti pelajaran di sekolah. Berinteraksi dengan guru melalui pertanyaan dan jawaban.

Namun hal lain yang perlu juga mereka pertimbangkan dan latih, adalah kemampuan menahan impuls, saat ingin bertanya dan berbicara dalam pelajaran. Saya mengajarkan mereka untuk bertanya dulu kepada diri sendiri, Apakah pertanyaan yang mau disampaikan relevan dengan topik pelajaran?, apakah penting dan urgent untuk ditanyakan atau mereka bisa mencari jawaban dari sumber lain?  Apa tujuan mereka bertanya, apakah keingintahuan atau hanya ingin mendapatkan atensi? Jika karena ingin mendapatkan atensi, sebaiknya hentikan bertanya.  Dengan bertanya kepada diri sendiri, harapan saya akan menimbulkan awareness dan menekan impulsifitas.

Bagi saya pribadi, penting untuk menstimulasi mereka berekspresi, mengemukakan pendapatnya, dan tumbuh sebagai pribadi yang kritis. Namun kemampuan mereka untuk berpikir dan menahan diri sebelum mengeluarkan  ide dan pikiran, mendengarkan penjelasan dari orang lain juga poin yang tak kalah penting untuk diajarkan.  Mengambil pepatah Indonesia yang berkata, diam adalah emas. Ternyata hal itu, bukan lah omong kosong karena dengan diam kita lebih banyak berpikir dan mempertimbangkan konsekuensi.

Jadi, ibu-ibu, memiliki anak yang ekspresif, kritis, dan senang mengeluarkan pendapat adalah berkah. Namun disisi lain, memperkuat mereka dengan skill mendengarkan dan memilih diam untuk persoalan tertentu, meskipun terkesan tidak populer juga patut menjadi pertimbangan kita bukan? Sebagai seorang ibu, saya jelas mengambil hikmah bahwa saya tidak boleh silau dengan sesuatu yang mudah menarik perhatian dan menonjol. Di sisi lain, mengabaikan dan tidak menghargai sesuatu, karena terkesan bukan indikator anak yang sukses versi sekolah. 

Disclaimer: terkhusus jika masalah nya berkaitan dengan yang haq dan bathil. Masalah yang terang benderang benar dan salahnya seperti korupsi, bullying, berbuat curang, ketidakadilan dan sebagainya. Untuk masalah ini, saya katakan kepada anak-anak untuk memilih “tidak” untuk diam. Silahkan SPEAK UP, karena saya tentunya tidak ingin juga anak-anak saya tumbuh menjadi individu yang ignorant.

12 thoughts on “Keterampilan Berbicara dan Mengemukakan Pendapat Gen Z dan Alpha, Apa yang Harus Diperhatikan?

  1. Ah, iya, ya
, mendidik tidak pernah mudah. Ada yg harus didorong, ada kalanya harus direm. Mendidik anak sebetulnya mendidik diri sendiri krn dari mereka kita juga bisa belajar. (spt yg mbak Fina sebutkan jg), saya setuju. Di negara kita apalagi jaman saya, keberanian berbicara merupakan sesuatu yg langka. Tapi saya ingat pengalaman saya waktu kecil, saya terdorong untuk belajar “speak up” dr buku agama: berkatalah yg benar walaupun pahit. Tapi sy jg masih ingat, betapa sy jg pernah kebablasan yg membuat sy (saat ingat) merasa malu. Tapi dari semuanya yg paling penting adl bimbingan dlm keluarga. Seperti yg mbak Fina lakukan, idaman banget. Barakallahu fiik, mbak Fina.

    Liked by 2 people

  2. aku jg msh jauh belajar ttg cara mendidik anak dan ini bisa mjd slh 1 ilmu baru aku dlm mendidik anak2ku. terkadang aku lupa mengrem kendali terhadap mereka 😓

    Liked by 1 person

    1. MasyaaAllah semangat mba. Kita sebagai orangtua, merupakan pengamat sejati anak2 kita, yang paling mengetahui perilaku yang masih perlu ditingkatkan maupun sebliknya perilaku yang harus dikurangi intensitasnya.

      Like

  3. Wah mendidik anak ternyata tidak semudah yang dibayangkan ya mbak, saya setuju bahwa sebagai orang tua kita harus bisa mengapresiasi yg menjadi bagian dari “kelebihan” anak, namun gak lupa juga untuk mengajarkan anak agar bisa mengaplikasikan kelebihannya tersebut pada kondisi dan situasi yang tepat, great job mbak! đŸ„°

    Liked by 1 person

  4. Tulisan yang sangat menarik Mbak Fina, apalagi ini dunia serba digital dan ada undang-undangnya harus pinter kapan ngegas dan kapan ngerem. Aku suka bagian “Sebagai seorang ibu, saya jelas mengambil hikmah bahwa saya tidak boleh silau dengan sesuatu yang mudah menarik perhatian dan menonjol” Soalnya pernah ketemu seorang ibu kalau udah lihat sisi positif anaknya enggak mau nerima sisi negatif anaknya. Terimakasih atas ilmunya ya mbak, bekal si jomlo nih, wkwk

    Liked by 1 person

  5. Mendidik anak memang butuh trial and error’ ya mbak kebiasaan mengungkapkan pendapat dan bertanya kalau tujuannya hanya untuk mendapat perhatian malah mengganggu jalannya proses belajar hehe

    Liked by 1 person

  6. Bagus untuk bisa mengutarakan pendapat, tapi kalau ngegas terus ya jadinya impulsif, jadinya harus seimbang ya mba. Tapi bagus untuk anak yang berani ngomong, bagus juga untuk anak yang pasif karena mereka bisa menjadi pendengar yang baik~

    Like

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: