TIPS Literasi Finansial Untuk Pasangan Anyar

Jika kalian pasangan yang baru menikah atau akan segera menikah, pembicaraan akan kesadaran finansial adalah sesuatu yang penting untuk dibahas. Kesamaan visi menjadi poin penting untuk mengurangi konflik setelah pernikahan karena tidak bisa dipungkiri masalah ekonomi menjadi salah satu alasan tertinggi dari perceraian.

Masalah ekonomi tidak hanya se simple besar kecil nya penghasilan tetapi juga meliputi bagaimana pasangan tersebut mengelola keuangan, bagaimana kontribusi dan komitmen masing-masing pihak. Oleh karena itu, kesamaan frekuensi menjadi alasan penting mengapa kamu perlu tahu seberapa jauh literasi finansial yang dimiliki pasanganmu.

Money may not buy love, but fighting about it will bankrupt your relationship

Michele singletary

Untuk menggali informasi dan pengetahuan mengenai bagaimana mengatur keuangan yang bijak dan tepat, saat ini, bukanlah sesuatu yang sulit. Banyak sekali bertebaran di internet ilmu-ilmu yang bisa diambil manfaatnya baik secara teori maupun pengalaman dari orang-orang lain yang sudah terlebih dahulu menerapkannya.

Oleh karena itu, disini saya tidak akan membahas secara khusus mengenai bagaimana literasi finansial secara teori, bagaimana membuat perencanaan keuangan melalui pos-pos keuangannya, karena saya bukanlah ahlinya. Kalau mau belajar, bisa cek langsung ke blog ahlinya perencanaan keuangan mba prita ghozie di https://pritaghozie.com/2018/07/26/tips-atur-uang-bulanan/  atau silahkan follow instagram atau youtube nya mas adhitya mulya. Disana banyak informasi yang aplikatif mengenai bagaimana mengatur keuangan secara cerdas.

Saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman kami sendiri, sebatas apa yang saya dan suami lakukan dalam mengatur keuangan di awal pernikahan. Meskipun belum tentu semua sesuai untuk diterapkan pada setiap keluarga, tetapi harapan saya dapat diambil manfaatnya.

Selalu berdiskusi dengan pasangan, sehingga timbul rasa percaya dan keterbukaan

Sangat penting untuk memupuk rasa kepercayaan kepada pasangan dalam hal finansial di awal pernikahan. Salah satu caranya dengan mengetahui kondisi keuangan dan mengelola nya secara bersama. Hal tersebut menjadi sebuah kepuasaan bagi pasangan muda. Selalu melibatkan istri dalam keputusan penting, karena perasaan terlibat dan bertanggung jawab terhadap pengaturan keuangan meskipun dirinya tidak ikut mencari nafkah merupakan challenge sekaligus reward bagi seorang istri. Selain itu, setiap keputusan yang diambil, efeknya bukan hanya untuk diri sendiri, pasangan juga pastinya terdampak, baik atau buruknya.

Mencontohkan dari diri sendiri dan konsisten

Apapun yang ingin di koreksi dari pasangan, sebaiknya berawal dengan memberi contoh dari diri sendiri. Misalnya jika ingin mengajak pasangan untuk lebih berhemat, dan memghindari overspending. Jangan hanya menghimbau dan melarang pasangan, karena terbukti tidak akan efektif. “Jangan belanja baju dan tas terlalu banyak deh, lemari dah gak muat. ” Eh tiba-tiba datang paket berisi kamera pesanan suami atau spare part sepeda atau alat olahraga miliknya. Inkonsisten bangetkan. Atau sebaliknya, istri yang melarang suami untuk membelanjakan duit, tapi istrinya sendiri di datangin mas-mas antar paket tiap hari. Gondok gak sih😆

Untuk laki-laki setelah bekerja, pengeluaran untuk hobi tergolong penting dan signifikan. Sebaiknya dikomunikasikan dan di atur dengan baik, jangan sampai suami terkena Financial trap. Apa itu financial trap nya? perasaan tidak enak atau tidak nyaman saat suami ingin membeli suatu untuk hobinya, maka agar impas suami akan membelikan barang kesukaan istri sebagai bentuk gratifikasi😆 etdah kayak penyelidik KPK aja. Salah? Gak juga sih. Tapi kalau berulang terus, efeknya ya ngaruh ke keuangan keluarga, tidak sehat dan kurang disiplin. Akibatnya pengeluqran tidak terkontrol😬😁.

Mencoba menunda keinginan

Saat baru menikah, tahap dimana saya dan suami benar-benar memulai dari nol. Saya masih berstatus mahasiswa sedangkan suami hanya pekerja dengan standard gaji lulusan fresh graduate di jakarta. Waktu itu, semua pengeluaran ada hitungannya. Semua kesenangan seperti makan di luar hanya boleh terjadi di akhir bulan. Setelah melakukan saving terlebih dahulu. Tidak ada kredit rumah ataupun kendaraan karena kita belum yakin mampu mencicilnya. Prinsipnya jangan sampai senang di masa muda, di masa tua menderita karena cicilan.

Disiplin

Selalu punya target dalam menabung. Kadang sering mendengarkan beberapa cerita orang mengenai gajinya. Padahal itu bukan esensinya. Ingat, bukan seberapa besar pemasukan, tetapi seberapa besar kau mampu menabung pemasukanmu.

It’s not how much money you make, but how much money you keep, how hard it works for you, and how many generations you keep it for

Robert T. Kiyosaki

Hindari kredit atau hutang sebisa mungkin dengan menyesuaikan gaya hidup.

Keinginan atau angan-angan pastinya selalu melebihi kemampuan penghasilan,seberapa besar pun gajinya. Mampunya cuma beli motor, angan-angan nya ingin naik avanza. Mampunya naik avanza, pengen nya naik innova. Begitu terus selanjutnya, jadi penting mengontrol keinginan untuk sama dengan kemampuan.

Jebakan kredit juga harus diantisipasi. Pengalaman pribadi, Pengen beli rumah di komplek x, kalau dari hitungan gaji sebenarnya mampu sih melunasinya dalam 5 tahun, sudah tanya-tanya ke segala bank dari yang bentuknya konvensional sampai syariah ternyata jatuhnya tetap jauh lebih mahal daripada kalau kami nabung terlebih dahulu dan melakukan pembayaran secara cash.

Dulu anggapan nya berhutang untuk properti adalah investasi, karena kenaikan harga jual rumah di akhir masa cicilan selalu lebih tinggi dari modal awal kita setelah menyicil beberapa tahun.

Duaaaarr, qodarulloh resesi, properti juga terkena imbasnya. Daya beli masyarakat menurun, demand berkurang, harga-harga rumah yang awalnya tidak masuk akal, sekarang mulai diturunkan. Akhirnya, terjawab di kala resesi seperti ini, orang yang paling beruntung adalah orang-orang yang terbebas dari beban hutang.

Buat prioritas

Penting banget ini, dengan prioritas kita mudah mengetahui kebutuhan mana yang harus dipenuhi lebih dahulu. Mempelajari urgensi nya setiap kebutuhan sehingga lebih terarah. Mana yang menjadi prioritas, naik haji atau ganti mobil atau liburan keliling eropa. Pastinya sulit untuk mendapatkan semua dalam satu waktu, sehingga perlu di buat skala prioritasnya. Skala prioritas setiap orang pastinya berbeda-beda sesuai dengan values yang dipegang setiap orang.

Sesuatu yang belum ada di tangan, belum menjadi rejeki.

Terkadang beberapa orang memiliki pemikiran uang yang dijanjikan perusahaan seperti bonus, gaji ke 13, uang cuti atau apapun bentuk yang memang masih dalam tahap janji akan diberikan, adalah rejeki mereka.

Bahkan sebelum uangnya berada di tangan, beberapa sudah mengeksekusi nya terlebij dahulu😃 umumnya dengan mengambil kredit atau hutang, dengan asumsi nanti akan dapat uang bonus, nanti akan dibayar dengan gaji ke 13 atau apalah. Padahal uang belum masuk ke rekening.

Percaya lah, itu sesuatu pemahaman yang keliru, jangan pernah panjang angan dengan uang yang belum di tangan kita. Lah uang yang ditabungan kita saja, bisa jadi bukan rejeki kita, kalau belum digunakan. Bagaimana pula uang yang masih dalam bentuk janji dan angan-angan? Ingat, yang menjadi  rejeki kita  ada 3 : makanan yang kita makan, pakaian atau barang yang kita gunakan dan yang paling penting harta yang kita sedekahkan.

Semoga sedikit tips nya bisa bermanfaat. Yuuk lebih bijak dalam mengatur keuangan. Dengan pengaturan yang tepat dan bijak, kita berinvestasi untuk proteksi keluarga kita. saat badai ekonomi, kita bisa memperkecil dampak resikonya untuk keluarga kita tercinta. Selain itu, kita juga memberikan legacy kepada anak cucu kita dengan membangun gaya hidup finansial yang lebih sehat.

19 thoughts on “TIPS Literasi Finansial Untuk Pasangan Anyar

  1. Mbak Fina, aku suka banget bahasannya dari sudut pandang Mbak Fina. Aku setujuu banget kalau hidup lebih enak bebas dari hutang. Daridulu aku ingin buktikan kalau beli rumah cash akan jauuh lebih murah dibanding harus nyicil KPR dan kredit lainnya. Di tulisan ini aku mendapatkannya.

    Ngomong-ngomong soal uang yang belum ada di tangan, aku juga setuju. Banyak banget orang yang masih mengandalkan ‘uang’ yang belum pasti, contoh bonus. Kecewanya akan berkali-kali lipat kalau tiba-tiba perusahaan nggak ngeluarin bonus, soalnya di perusahaan tempat aku kerja banyak yang gitu.

    Terimakasih ya Mbak sudah sharing. Walau masih single, tapi literasi kayak gini juga kubutuhkan untuk persiapan di kehidupan kelak 🙂

    Like

  2. ah setuju semua mbak sama poin2nya. pasangan menikah atau yang akan berencana menikah wajib ngeh soal ini. simpelnya duit keluar ga boleh lebih dari duit masuk. terserah mau belanja apa, mau invest apa, mau nabung apa pokoknya rumusnya harus begitu haha. Ada anak2 yang harus dikasih makan soalnya.

    Like

  3. Haloo mbak, salam kenal. Ini pertama kali aku berkunjung ke blog ini.
    Kalo ngomongin finansial pasti ga ada habisnya. Selalu ada aja buat dibahas, apalagi buat pasangan suami istri.
    Ternyata, kebanyakan suami punya hobi tertentu hingga membutuhkan banyak uang yaaa. Terus si istrinya kudu dikasih “gratifikasi”. Eh, Gimana sih 😅
    Eh, tapi aku ga punya hobi tertentu yg sampe menghabiskan uang loh mbak.. Atau.. Krn aku belum jd suami, jadi belum meraskaan itu kali yaa 😅

    Like

    1. Salam kenal mas, makasih sudah berkunjung. Hahahahah karena laki2 kalau dah kerja umumnya banyak pengeluaran di hobi mas demi mencapai work life balance, tapi dilematis, sama istri. Mudah2an jangan ngalamin deh mas nya😀

      Like

  4. Hai mba..aku juga follow mba prita ghozie. Beberapa saran finansialnya lebih masuk akal untuk ukuran pekerja menengah kayak saya. Alhamdulilah..karena konsisten cash flow rumah tangga berjalan aman meskipun ada aja bocor halusnya

    Like

  5. Kuncinya kudu disiplin ya mbak, dan harus terbuka juga sih masalah keuangan sblm nikah, biar tau kira-kira keuangannya sehat atau nggak, karena uang ini masalah yang sensitif banget menurut saya

    Like

  6. godaan terbesar saat ini memang belanja online🤭…lucu juga pas setelah belanja online baru menyampaikan pada pasangan…pasangan jadi shock kan…hihihi…jadi akhirnya memang untuk persoalan finansial keluarga semuanya harus dibicarakan secara transparan kepada pasangan…demi meminimalisir salah paham..😊

    Like

  7. Halo mba Fina, suka sekali dg tulisannya. Semua tipsnya oke bgt. Nyesel jg c dlu awal2 nikah ngga ngerem, jd agak kebablasan dan baru berasa imbasnya sekarang 🤣🤣🤣 tp pengalaman adl guru yg berharga, bener bgt. Setelah coba utk disiplin dan konsisten, skrg berasa lebih balance. Yg dlu klo udah tanggal 20an berasa tua renta, sekarang alhamdulillah masih belia 😉

    Like

  8. setuju Mbak, hindari hutang dalam bentuk apapun, lebih baik beli dengan cara menabung, tetapi disiplin dan prioritas . Utamakan kebutuhan daripada keinginan. Selalu terbuka dengan pasangan…
    Terima kasih sheringnya , Mbak..
    Salam hangat selalu..

    Like

  9. Terima kasih pencerahannya Mbak, artikelnya menginspirasi apalagi yang kalau belum di tangan, belum milik kita. Fenomena sekarang banyak yang hobi ngutang untuk gaya hidup makanya macam paylater laris manis..

    Like

Leave a Reply to Sulfina Tanjung Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: