Jalan-jalan Turki tanpa Tour Guide : Keseruan dan Tantangannya

Sebenarnya kita sekeluarga bukan termasuk yang terlalu concern untuk menyiapkan dana khusus untuk liburan. Kita sekeluarga menempatkan  liburan bukan di urutan atas prioritas. Mungkin dikarenakan setiap tahun kita pulang kampung ke Medan, ya liburannya otomatis seputar kampung halaman saja. Tapi kali ini berbeda, Cerita2 tentang Turki memang cukup mengusik rasa penasaran kita sekeluarga. Apalagi mikir nya, mumpung lagi tinggal di Qatar ni, perjalanan kesana hanya ditempuh dalam waktu 4 jam naik pesawat, bisa hemat di biaya transportasi dibandingkan kalau perginya dari Indonesia.  

Long story short, kita akhirnya memutuskan memanfaatkan liburan musim semi anak-anak untuk berjalan-jalan kesana, april 2019. Kita pilih mengurus perjalanan secara mandiri tanpa ikut tour. Alasannya karena kita bawa anak kecil, pengen waktu yang lebih fleksibel, tidak terikat dengan waktu rombongan. Semuanya pemesanan kita lakukan secara online, dari mulai pesan visa, tiket, hotel, dan balon udara. Untuk link e_visa Turki bisa di klik disini https://www.evisa.gov.tr/en/. Pilihan Airlines, jatuh ke Turkish Airlines karena selain lebih murah, waktu transitnya di Istanbul tidak terlalu lama, mengingat tujuannya pertama, akan berkunjung ke Cappadocia.  Pengalaman awal dari perjalanan ini sebenarnya dibuka dengan kekecewaan atas pelayanan maskapai ini. Saat tiba di Istanbul suami dapat email kalau tiket penerbangan pulang kita di cancel sepihak, pihak maskapai menawarkan opsi untuk penerbangan di hari selanjutnya dengan risiko menambah biaya hotel sehari lagi, atau pulang sehari lebih cepat dari jadwal,  apapun pilihannya, risikonya tetap dikita yang menanggung kerugian biaya hotel.

Saat itu, kita berusaha menghubungi customer service yang ada di counter bandara tetapi pelayanannya kurang memuaskan, mereka tidak tahu menahu dan menyarankan agar menghubungi kantor pusat melalui telpon bebas pulsa yang disediakan.  Keinginan kita untuk bertemu langsung dengan pihak ticketing yang ada di bandara tidak mereka fasilitasi. Akhirnya, usaha untuk komplain melalui telpon sia-sia, pihak maskapai tetap tidak memberikan win win solution

Oke lah , meskipun kecewa kita pikir sudah terlanjur basah,  qodarulloh.. dibawa santai saja jangan sampai mengganggu liburan😉. Istanbul punya dua bandara saat itu, satunya Sabiha Gokcen International Airport dan  Attaturk International Airport. Kebetulan kita pilih  transitnya di Attaturk International Airport, agak shock juga dengan kondisi bandaranya yang levelnya internasional tapi penampakannya  masih lokal , eh ternyata usut punya usut mereka sedang membangun bandara baru Istanbul Havalimani Airport, dan kebetulan pesawat kita untuk pulang nantinya take off dari bandara itu. yeaay, bisa sekalian mencoba bandara baru judulnya.

Cappadocia

Kita transit sekitar dua jam-an sebelum melanjutkan perjalanan ke Cappadocia, disana ada dua bandara juga,  Nevsehir dan Kayseri.  Kebetulan kita pilih landing di bandara Kayseri, jarak tempuh Istanbul dan Kayseri sekitar 1 jam naik pesawat. Kemudian di lanjutkan dengan perjalan darat sekitar 60 menit untuk sampai ke Göreme Cappadocia. Kalau memilih landing di Nevsehir waktu tempuhnya hanya sekitar 20 menit naik mobil ke Göreme.

Di bandara  sebenarnya terdapat counter penyewaan mobil,  tetapi kita memutuskan tidak menyewa mobil di bandara karena mikirnya kita pulang bakalan naik bus, jadi kepikiran repot kalau harus mengembalikan mobil lagi ke bandara. Ini kesalahan kalkulasi kita yang pertama😅 , kenapa? Karena  ternyata  dilihat dari harganya, urutan penyewaan mobil lebih murah jika menyewa melalui online booking,  kemudian menyewa di bandara daripada langsung  di tempat lokasi. Pilihan mobilnya jauh lebih bervariasi dan lebih bagus juga. Yaah ambil sebagai Lesson learned saja namanya juga baru pertama, plus modal nekad, berani-beranian tanpa tour guide jalan-jalan ke negeri orang.

Untuk menyewa dan  mengendarai mobil disini cukup mudah. Kalau kita pribadi, karena punya sim Qatar cukup dengan menunjukkan sim, bayar, langsung deh bisa keliling naik mobil. Kalau sim Indonesia, memang harus mengurus dulu sim internasional di korlantas polri  daerah MT Haryono Jakarta. Dulu tahun 2017 sempat mengurusnya, prosesnya mudah, cepat dan biaya nya hanya sekitar 250 ribu. Kita sekeluarga sangat puas dengan pilihan menyewa mobil disana, otomatis lebih santai dan lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi.  Malah kepikiran, kalau ada kesempatan berkunjung lagi, sewa mobilnya langsung dari Istanbul saja, bisa ngatur sendiri berhenti di spot yang kita sukai.

Di Göreme Cappadocia kita menghabiskan waktu sekitar 3 malam, dikarenakan kita sampai sore hari, petualangan baru dimulai keesokan paginya.  Kita menginap di hotel yang memang di desain seperti gua, jadi suasana petualangannya benar- benar kerasa. Awalnya sih emang terlihat seram, lebih terkesan gelap , tetapi anak-anak sangat enjoy dikarenakan suasana kamarnya yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Sayang nya foto di dalam kamar nya gak ketemu, jadi tidak bisa di pajang disini.

Oya, dikarenakan suami dan anak-anak telah membooking balon udara sebelumnya. Keesokan harinya, pas sebelum subuh, mereka sudah harus bersiap-siap, karena seperti janji mereka akan dijemput oleh pihak penyelenggara balon udara. Sumpah, ini waktunya mepet banget dengan waktu sholat, terpaksa sholat subuhnya pake gigi 4 sangkin ngebutnya.  Sedih aja, kalau demi naik balon udara sholat subuhnya harus ditinggalkan. Saran saya, kalau mau naik balon udara ini harus diomongin ke pihak penyelenggara terlebih dahulu, minta agar dijemputnya menyesuaikan waktu subuh.

Foto balon udara dari hotel (kiri) dan dari atas balon udara (kanan)

Cappadocia emang sesuatu, pemandangannya MasyaaAllah. Gua, lembah, bukit dan batu2 besar mengelilinginya. Jalan-jalan di sekitar Göreme saja pemandangannya sudah ajaib, apalagi dilanjutkan ke situs-situs bersejarah lainnya. Saat itu kita masuk ke under ground city yaitu gua yang digali cukup dalam dengan lorong-lorong sempit dan langit-langit yang pendek, sampai beberapa kali harus menundukkan kepala saat menyusurinya🙂. Awalnya pemandangannya benar- benar membuat terkesima, sampai bertanya-tanya “kok bisa ya mereka membangun peradaban di bawah tanah begini?”, nyaris di dalam tidak ada matahari yang masuk karena memang jauh di bawah tanah. Semakin jauh ke dalam semakin membuat sesak napas bagi saya yang memiliki kecenderungan claustrophobic. Akhirnya, setelah  kurang lebih 10 meter saya menyerah dan meminta untuk kembali ke atas😝😆,anak-anak ngambek karena masih penasaran pengin lanjut ke bawah, cuma emak sudah beneran gak sanggup, nafas semakin sesak karena kecemasan yang berlebihan. Lain kali, kalau yang beginian, gak usah ajak emak2 ikutan deh😅.

keseruan anak-anak naik turun bukit di Cappadocia

Ihlara valley

Lanjut perjalanan hari berikutnya, tujuan kita ke ke Ihlara valley, perjalanan 80 km dari Göreme naik mobil. Di perjalanan kita disuguhkan dengan pemandangan dari barisan pegunungan yang masih diselimuti salju. Sesampainya disana kita terkagum-kagum dengan sungai di lembah yang dikelilingi batu2 besar. Turun ke bawah dengan ratusan anak tangga, fiuuuh emak lap keringat🤧. Lagi-lagi memang butuh fisik dan mental yang kuat untuk bisa sampai ke ujung nya, yaitu pemandangn air terjun nan eksotis. Yang suka hiking, cucok ni jalan kesini, karena lumayan challenging medannya, eh untuk ukuran emak-emak ya, kalau anak-anak mah beda. Mereka jelas excited banget berjalan menyusuri sungai begini, tak ada kata lelah, cuma emaknya ngos2an mengimbanginya😂.

Ihlara Valley (kiri) dan pemandangan di perjalanan menuju ke sana.

Malam nya kita lanjut ke Istanbul melalui bus. Nah ini termasuk kesalahan kita selanjutnya, karena kita tidak booking tiket terlebih dahulu. Konsekuensinya tiket bus penuh dan kita dapatnya tempat duduk di bagian belakang. Sangat tidak nyaman karena kursinya tidak dapat di setting untuk sedikit meluruskan badan, ditambah bau diesel yang cukup menyengat. Awalnya saya yang ngotot minta naik bus ke suami, harapannya pengen punya pengalaman lain yang menyenangkan, ternyata saya keliru. Ditambah lagi waktu tiba nya di Istanbul yang molor banget, sampai sholat subuh terpaksa kita lakukan di dalam bus. Pengalaman benar deh, disini bus setiap 3 jam sekali akan berhenti di rest area, untuk penumpang istirahat dan ke kamar mandi, karena di dalam bus tidak di sediakan WC. Belum lagi, kecepatan bus nya sangat tidak sesuai harapan saudara-saudara. Gimana lah ya, namanya orang medan, mikirnya semua bus bakal sama kayak sinabung jaya, KUPJ atau INTRA yang supirnya mantan pembalap semua😝. Kalau diulang  lagi, mending naik pesawat aja deh atau sekalian sewa mobilnya di Istanbul aja, jadi bisa bawa mobil pulang pergi ke Cappadocia daripada harus berjuang naik bus. Jelas saya bukan traveller sejati, tim anti ketidaknyamanan🤭.

Istanbul

Sesampai di Istanbul kita tepar, karena setelah diturunkan di terminal bus antar kota antar propinsi, setelah sekitar 10 jam perjalanan masih harus dilanjutkan diantar naik shuttle tetapi hanya setengah perjalanan euy. Perjuangan selanjutnya benar2 tragis, nyeret2 tas besar, sambil geret bayi, dan kehilangan arah. Nanya pun butuh perjuangan disana, karena orang turki jarang yang lancar berbahasa Inggris. Tapi kita tidak menyerah, akhirnya dari ke sekian orang  yang ditanya ada juga yang paham nginggris, dan kita di arahkan naik trem ke daerah Sultan Ahmet.

Alhamdulillah, setelah perjuangan panjang akhirnya sampai juga ke hotel yang kita booking,  Seven Hills. Hotel  ini memang tidak terlalu besar, bintang empat, tapi kita puas dengan pelayanannya dan lokasinya yang persis di belakang hagia sophia dan blue mosque. Jadi kalau anak-anak capek atau mau pipis, tinggal ngesot dikit juga dah nyampe😄. Salah satu yg istimewa juga adalah restorannya ada di rooftop, dengan view langsung menghadap ke Blue Mosque di Selatan, Hagia Sofia di Utara dan Selat Bosphorus di sisi Timur. Pas untuk yang hobi foto-foto.

Hotel seven hill dan foto-foto dari restoran rooftop

Hari-hari berikutnya perjalanan kita di seputaran Hagia Sophia, Blue Mosque, museum Topkapi dan tak lupa Grand Bazaar. Semua hanya dilakukan dengan berjalan kaki, jadi kita hemat ongkos transportasi selama di Istanbul. Yess, girang bener kalau bisa gratis terus.

Bulan April, Turki yang memasuki musim semi ditandai dengan banyak nya tulip bermekaran di taman-taman kota nya. Saya baru tau, ternyata selama ini saya keliru menganggap bunga tulip berasal dari Belanda, fakta nya bunga tulip berasal dari Turki. Wajar pemandangan seluruh taman kota saat itu dipenuhi dengan mekarnya tulip dengan aneka warna. Gratis… jadi kalau kita lelah dan tak punya arah tujuan. Cukuplah mengarah ke taman, biarkan anak-anak bermain di playground, sambil kita orangtuanya menikmati bunga-bunga tulip yang bermekaran ditemani jagung bakar dan chestnut dan tak lupa foto-foto😊. Sudah cukup menstimulasi endorfin dan mengubah mood menjadi bahagia.

Selain taman, pastinya harus mengunjungi situs-situs bersejarah selama di Turki. Sebelum masuk situs bersejarah, biar lebih hemat, tidak keluar uang buat tour guide😬, biasanya suami akan browsing dulu sejarahnya untuk selanjutnya menjelaskan ke saya dan anak-anak, hehhehe. Saat berada di dalam, gak berhenti decakan kagum melihat sejarah kesultanan Ottoman di masa lalu. Saya sebenarnya bukan termasuk orang yang tertarik berkunjung ke museum, tetapi baru kali ini merasakan sensasi museum dengan suasana berbeda.

Oya, yang saya ingat, begitu masuk Topkapi dan mulai banyak terlihat foto sultan yang pernah memimpin Ottoman, yang pertama kali saya cari adalah wajah Muhammad Al Fatih, The Conqueror. Hilang sudah rasa penasaran yang sudah bertahun-tahun di rasakan atas sosok Sultan Mehmet II ini.  Di museum ini, semua peninggalan bersejarah islam masih terpampang dan pastinya masih dalam kondisi terawat di dalam sana. Pedang-pedang nabi dan para sahabat, senapan, dan baju perang bahkan baju Fatimah radiyallahu anha masih tersimpan rapi disana. Saya rasakan liburan kali ini terasa berbeda, karena tidak hanya me recharge jiwa tetapi juga pengetahuan sejarah kita.

Tak bisa di ingkari, Turki memang luar biasa pesonanya, “if one had but a single glance to give the world, one should gaze on Istanbul‘ ( Alphonse de Lamartine). Banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk selalu kembali menginjakkan kaki disana. Selain pemandangan alamnya , wisata sejarah, makanan, tempat shoppingnya, serta orang-orangnya yang ramah menjadikan negara ini sangat berkesan. Kalau kita bilang sih liburan ke turki itu ibarat paket komplit. Tak salah jika banyak pengunjung yang selalu ingin  kembali lagi kesana. Semoga next time, kita bisa menginjakkan kaki kembali, di negara yang sebagian besar wilayah nya berada di Asia dan sebagian kecil lainnya di Eropa ini. Pastinya dengan perencanaan yang lebih matang, berkaca dengan beberapa pengalaman sebelumnya, demi mengeksplore tempat-tempat baru yang tak kalah mengagumkannya di wilayah lain Turki.

Tulisan seputar jalan-jalan di Turki ini sengaja dibuat sebagai tugas yang di berikan oleh mba Dewi Rieka, mentor saya untuk mencari ilmu selama beberapa hari belakangan ini. Dari beliau saya belajar banyak mengenai dunia blogging, menemukan tips dan trik menarik, dan sukses menjadi booster semangat untuk serius menulis demi mengembangkan blog pribadi. Cuss intip disini yang mau ikutan kelasnya mba Dewi www.kelasruangaksara.blogspot.com. Dijamin gak akan kecewa karena pastinya banyak ilmu baru yang diperoleh. Apalagi di masa pandemi begini, mumpung lebih banyak waktu di rumah, sebaiknya berdayakan diri dan tetaplah saling berbagi.

17 thoughts on “Jalan-jalan Turki tanpa Tour Guide : Keseruan dan Tantangannya

  1. Seru ya mba family trip ke Turki…
    Idealnya berapa hari mba supaya bisa sedikit puas jalan2nya kalo ke sana mba?
    Anak2 sy beberapa kali minya liat balon udara beneran.. Mudah2an bisa bawa mereka kesana 😁😁

    Like

    1. Aamiin insyaaAllah bisa mba. Tergantung tujuan kita mba. Kalau saya, tahun lalu 8 hari itu sama perjalan PP cuma mengunjungi 2 tempat mba (Cappadocia dan Istanbul). Kalau sama tour bisa dpt lebih banyak tempat, tapi gempor kalau bawa anak2 mba😅

      Like

  2. Ya Allah mbak itu impian saya bgt jalan jalan ke cappadocia, thank’s buat artikelnya informatif bgt .. semoga ada rejeki jalan jalan kesana suatu hari nanti.. aamiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: