Pilih yang mana Parenting Islami atau Western Parenting?

Secara pribadi senang melihat parenting yang berbasis nilai2 islam karena memang umumnya nilainya banyak yang  sesuai syariat, namun di satu sisi, tetap  harus memilih tidak bisa semua kita telan bulat2. Kita seleksinya,  kalau sudah jelas ada tertulis di alquran dan hadits shahih, insyaaAllah sebagai muslim kita wajib berusaha mengikuti, sebaliknya Kalau masih  abu-abu dan hadits-hadits yang ditampilkan nya ternyata bukan yang shahih,  lebih baik di tunda sampai kita tau kebenarannya. 


Ngomongin materi parenting ini, kita bicara sesuatu yang unik dan dinamis. Berubah2 sesuai jaman, tidak seperti berbicara ilmu pasti. Secara garis besar sih harusnya sama tapi untuk pendekatannya tetap kembali pada  values yang dipegang keluarga.


Sempat dipertemukan beberapa kali dengan orangtua yang saklek banget. Setiap dikasih ilmu parenting dari barat sudah langsung resistan, menganggap semua nya buruk dan tidak sesuai syariat.  Faktanya penelitian dari barat, jauh lebih banyak dan luar biasa dibanding yang kita lakukan. Bukannya sesuatu akan diakui sebagai ilmu apabila sudah dilakukan pengujian  dan terbukti universal. Sependek pengetahuan saya, parenting islami masih minim soal itu.  Sebaliknya ada juga yang terlalu terkesan dengan gaya parenting dari barat padahal beberapa hal kurang sesuai dengan adat ketimuran dan nilai-nilai agama kita.


Alhamdulillah disini dikasih kesempatan membandingkan metode parenting kita (islami) vs western parenting. Akhirnya setelah lama gak kepake, berguna juga itu, mata kuliah observasi dan wawancara yang di dapat saat kuliah. Pengalaman pertama menemani si bungsu yang masih 3 tahun di nursery, saat itu ibunya diijinkan masuk selama seminggu untuk menemani anak di awal sekolahnya. tiba2 ada seorang anak yang nangis gak berhenti2, kepo dong.. apa nih yang bakal dilakuin gurunya.  semakin dikasih tau dan diajak ngobrol,  si anak semakin kencang volume nangisnya.  Kebayang repotnya ibu gurunya. Ngintip2, melihat reaksi gurunya. Ternyata sama si guru, anak tsb dibawa ke pojok ruangan. Di timeout lah disana sampai si anak bisa menenangkan diri, ini anak nangis nya kayak sudah mau muntah tapi gak ada yang memperdulikan. Semua abai. Coba kalau di indonesia, pasti ni anak di peluk, dibujuk, diajak ngomong untuk dialihkan perhatiannya. Tega juga ni guru dan yang pasti konsisten sampai si anak yang menyerah, mulai tenang dan bisa diajak negosiasi untuk kembali ke kelas.


Oya, aturannya disini kalau mau masuk nursery setara dengan playgroup/paud di Indonesia, usia 3 tahun harus sudah lepas diapers, sudah bisa membersihkan diri sendiri saat bak (buang air kecil) dan bab (buang air besar). Semua kemampuan yang berkaitan dengan self help nya  ditanyakan saat wawancara awal. Jadi sibuklah kita melatih kemampuan tersebut karena saat tinggal di indonesia anak ini msh pakai diapers sesekali, dan masih kita bantu untuk cebok.  Ini juga poin khusus. Makanya anak-anak mereka super duper mandiri. Self help nya sudah tuntas sejak usia dini.


Pengalaman berikutnya yang membekas, saat sekolah, si bungsu harus diantar ke halte bus, karena masih nangis dan mogok diawal2 sekolah, digendonglah ke bus sama saya ibunya. Eh tiba2, langsung saya di tegur sama gurunya. Gurunya meminta, untuk Lain kali kalau saya ngantar anak ke halte, tolong anaknya digandeng saja, tidak usah digendong. Rasanya pengen teriak, ni anak msh 3 tahun loh, dan belum pernah berpisah sama ibu nya. Masak segitu teganya sihh.. Langsung membandingkan dengan kakak2 nya saat paud betapa sabar dan luar biasanya guru2 kita.  Saat anak sulit berpisah dengan orangtua nya di awal sekolah mereka benar2 berusaha menenangkan si anak, membujuk bahkan sampai menggendong. Baru menghargai betapa beratnya tugas mereka, yang dulu seringnya saya take it for granted karena menganggap sudah selayaknya seperti itu tugas mereka. Gondok sih di komplain gurunya tapi kalau lihat hasil pendidikannya emang beda. Bukan akademis nya sih, tapi karakter anak-anaknya. Anak-anak nya cenderung punya karakter yang kuat, terbukti dari mindful of othersnya , saya sangat salut dengan how they treat others, Contohnya soal2 sederhana seperti menahan pintu saat ada orang yang dibelakang mereka, berdiri dan mempersilakan orang lebih tua untuk duduk, selalu menyapa orang lain terlebih dahulu walaupun hanya dengan kata2  standard “hi.. how are you?” Standard karena semua akan mengatakan hal yang sama saat bertemu, tapi tidak mudah dilakukan oleh anak2 lain, terutama anak2 saya sendiri.  Untuk hal terakhir ini, menyapa orang lain duluan, saya sampai men-challenge anak2 saya supaya mereka yang harus lbh dulu menyapa temannya saat bertemu, dan akan diberi reward jika berhasil. 


Satu lagi yang tak pernah gagal membuat kagum, magic word,  anak2 mereka sudah terlatih dengan kata2 please, sorry and thankyou. Saya bingung pembiasaannya seperti apa ini, lha di negara saya orang dewasa seperti saya masih banyak yang sulit mengucapkannya. Jadi tamparan keras untuk kita sekeluarga, urusan mengasuh anak2 ini masih panjang dan masih harus ekstra kerja keras untuk  membiasakannya.  So Looong way to go😓….


Karena disini multikultural banget, penduduknya dari berbagai negara di dunia. Jadi punya kesempatan juga  melihat perbandingan dengan anak2 dari bangsa lain. Gak usah diceritain deh bagian negatifnya.. Bingung juga, sekolahnya umumnya sama, tapi bisa berbeda outputnya. Pastilah ini pendidikan di rumahnya yang membuat perbedaan besar. Konsistensi orangtua anak2  western patut diacungin jempol, dan pastinya harus digaris bawahi usaha mereka bukan instan.  Ilmu2  parenting mereka untuk karakter tertentu terbukti lebih baik dari kita, jadi sebaiknya jangan buru2 ngecap dulu sebelum lihat outputnya. Ambil ilmunya bukan malah dimusuhi.


Eh tapi bukan berarti kami sekeluarga setuju dengan semua nilai dan metode mereka ya… Banyak juga hal2 yang kita rasa kurang pas dengan adab dan keyakinan kita. Salah satunya secara pribadi kita kurang tertarik dengan gaya memuji mereka yang terlalu berlebihan. walaupun baik untuk meningkatkan kepercayaan diri anak tetapi anak menjadi cepat puas dan terlihat seeking attention kalau belum mendapatkan pujian. Selain itu, gaya parenting barat selalu memiliki concern yang tinggi terhadap pengembangan kepercayaan diri anak, sehingga performance pada kegiatan seni di panggung merupakan kegiatan yang rutin dan selalu mendapat perhatian khusus. Namun menurut kita pribadi, meskipun percaya diri penting, tetapi sampai pada level tertentu sebagai muslim kita juga memiliki pemahaman bahwa malu juga sebagaian dari iman. Rasa malu menjadi benteng seorang muslim untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan tercela, sehingga lebih berhati-hati dengan konsep percaya diri yang berlebihan, sehingga menjadi pribadi yang over confidence.


Apapun pilihan gaya parenting, pastinya ada nilai positif dan negatifnya. Sebagai orangtua, kita hendaknya lebih jeli dan selektif memilih mana yang sesuai dengan visi dan misi keluarga kita. Menjadi saklek terhadap suatu gaya, tentunya menjadi tidak menguntungkan, karena menjadikan kita pribadi yang resistan untuk menerima kebaikan dari sudut pandang yang berbeda. Alangkah baik nya kalau kita bisa mengambil hikmah dari kedua gaya tersebut sehingga menjadi lebih kaya dalam illmu dan strategi parenting untuk diaplikasikan ke anak-anak kita.

Referensi:

https://about.me/thefunkids

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: