Mengapa Topik Reading Comprehension Sangat Penting?

Tanpa disadari banyak dari kita yang mahir membaca tetapi gagal memahami inti yang dibahas dalam bacaan, bahkan sulit menjelaskan apa yang ia baca.  Beberapa hanya mampu pada level mendeskripsikan cerita tanpa bisa menganalisa dan menarik kesimpulan dari ceritanya. Kesulitan pemahaman bacaan (reading comprehension) ini menyebabkan banyak anak kesulitan dalam belajar mandiri. Inilah yang menyebabkan, semakin tinggi jenjang Pendidikan, dimana model belajar mandiri mendominasi dibandingkan tatap muka, kemampuan reading comprehension juga diituntut untuk semakin baik.

Pengalaman pribadi saya terkait hal ini adalah saat ujian S-2, topik Bahasa Inggrisnya dipenuhi dengan soal cerita, dan seperti biasanya kita akan diberikan pertanyaan terkait dengan artikel dimana jawabannya sangat mirip satu dengan yang lainnya. Waktu itu kepikiran kenapa bukan grammar atau listening yang lebih banyak muncul. Ternyata setelah memulai perkuliahan, saya baru memahami mengapa reading comprehension yang lebih ditekankan, yaitu karena kita dituntut untuk lebih banyak mandiri membaca buku, jurnal dan literatur asing.

Orang bijak berkata, reading without reflecting is like eating without digesting. Saya setuju dengan pendapat ini, karena sebanyak apapun buku yang kita baca akan menjadi sia-sia tanpa pemahaman yang baik. Keterampilan ini seharusnya diajarkan pada sejak dini untuk anak-anak kita. Tugas kita sebagai orangtua tidak selesai hanya sampai mereka bisa membaca tetapi apa mereka bisa memahami apa yang mereka baca.

Saya merasakan perbedaan penekanan pada kurikulum di Indonesia dengan saat anak-anak sekolah di Qatar. Kebetulan kurikulum sekolah mereka mengikuti kurikulum UK. Saat anak saya pertama masuk sekolah, pihak sekolah melakukan assessment untuk memetakan kemampuan anak-anak. Setiap pelajaran mereka bagi set nya sesuai dengan kemampuan anak.

Kebetulan anak kedua saya ditempatkan di set yang rendah untuk matematika. Padahal kita yakin, kemampuan matematika anak saya tidak seburuk itu. Apalagi melihat ke pelajaran mereka yang masih jauh dibawah standard matematika di Indonesia.

Pada saat itu, jelas anak saya drop, kehilangan kepercayaan dirinya. Kami sebagai orang tua agak cemas, kita sempat menanyakan ke gurunya, materi matematika apa yang dia tidak tuntas dikerjakannya agar kami bisa membantunya di rumah. Sayangnya jawabannya kurang memuaskan, gurunya selalu membicarakan kemampuan Bahasa Inggrisnya yang masih kurang berkembang dan dibawah rata-rata. Saya kurang puas, masih tetap penasaran, apa coba hubungan nya kemampuan Bahasa Inggris yang dibawah rata-rata dengan kemampuan matematika?

Take it or otherwise, karena saya tidak mampu mengubah prinsip sekolah maka yang saya lakukan adalah menguatkan anak-anak, agar tidak melemahkan usahanya dan kepercayaan dirinya. Sejalan dengan waktu, saya amati kemampuan Bahasa Inggris si anak meningkat, hal ini diikuti juga dengan kenaikan set nya dalam pelajaran matematika. Baru saya pahami betapa mereka memiliki fokus yang berbeda dengan yang saya jalani di Indonesia. Pelajaran Bahasa disini adalah pelajaran yang mereka beri perhatian khusus dibandingkan pelajaran-pelajaran matematika dan sains terutama untuk sekolah dasar.

Saya juga memperhatikan isi pelajaran Bahasa Inggris mereka berbeda dengan pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Di Indonesia anak-anak fokus pada grammar dan writing, sementara disini, saya jarang sekali melihat anak-anak saya terutama yang duduk di sekolah dasar disibukkan dengan tugas-tugas grammar. Bahkan untuk anak yang lebih besar yaitu secondary (SMP dan SMA) masih banyak writing dan grammar nya yang tidak sesuai kaidah.  Guru-guru di sini tidak mempermasalahkan kesalahan-kesalahan dalam penulisan, selagi mereka memahami maksud si anak. saya bahkan sempat beradu argumen dengan anak saya yang nomor 3 saat saya memperbaiki penulisan Bahasa Inggris nya, dia menolak untuk di revisi dan berkata “it’s okay bu, my teacher doesn’t mind at all”.  Dalam hati berpikir, kenapa lah kesalahan seperti ini tidak dikoreksi oleh guru sekolahnya, kalau di Indonesia pasti sudah lain ceritanya. Grammar dan writing tetap menjadi fokus utama.

Memasuki tahun ke empat anak-anak bersekolah disini, akhirnya saya menyadari kalau memang sejak awal ada perbedaan fokus, saya yang terdidik dan terbiasa dengan gaya  Indonesia tidak sesuai dengan  apa yang menjadi fokus guru-guru disini. Perbedaan fokus pastinya menimbulkan perbedaan perlakuan, jadi gak akan pernah ketemu mau dibawa kemanapun.

Jadi Akhirnya, agar kongruen , saya dan suami  juga mengubah  prioritas kita terhadap anak-anak. yang awalnya kita sebagai asian parents umumnya lebih menitikberatkan pada pelajaran matematika dan sains, mulai bergeser perlahan-lahan, sekarang mulai menyadari pelajaran Bahasa juga layak untuk mendapat perhatian lebih, karena belajar tanpa kemampuan pemahaman itu bakal sia-sia. Kita paham sekarang bahwa pemahaman (comprehension) itu sesuatu yang krusial untuk kelangsungan bertahan hidup dalam dunia Pendidikan, karena Apapun pelajarannya dari matematika sampai sejarah semua nya membutuhkan kemampuan pemahaman bacaan. Yuuk Pelan-pelan mengubah mindset terhadap pelajaran bahasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: