Pelajaran matematika dan sains pada anak bilingual: Bahasa Ibu atau Inggris?

Ceritanya suami apply pekerjaan dan diterima kerja di salah satu perusahaan di luar negeri, tepatnya di Qatar. Salah satu kosekuensi dari  kepindahan suami adalah mengharuskan anak-anak untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris, karena sekolah perusahaan kebetulan sekolah internasional dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Pada tahun pertama kita mengalami kesulitan untuk membantu pelajaran mereka di rumah karena perbedaan kurikulum, ditambah kemampuan bahasa Inggris mereka masih pasif, sedangkan untuk bicara hanya sekedar bertahan hidup yaitu hanya mampu menjawab dengan yes or no.

Mengajari mereka membuat kita sebagai orangtua berpikir, pilihan bahasa seperti apa yang lebih baik dan mudah di pahami, terutama  untuk pelajaran matematika dan sains yang memang tergolong unik. Uniknya dikarenakan bahasa akademik  yang digunakan untuk pelajaran ini spesifik,  berbeda dengan bahasa inggris untuk daily conversation.  Saat mengajarkan pecahan saya harus menggunakan google translate untuk mencari istilah pembilang dan penyebut dalam bahasa inggris. Itu bukan akhir dari perjuangan, untuk menjelaskannya  lebih ribet lagi jika harus dengan bahasa Inggris mengikuti bahasa pengantar mereka di sekolah. Saya akui, saya mengalami kesulitan karena bahasa Inggris saya masih  tergolong run of the mill, saya tidak pernah mengecap pelajaran matematika dan sains dalam bahasa tersebut. Kebayang baru ngebahas pecahan sudah bikin mules, gimana kalau pelajaran yang lebih advance seperti fungsi hiperbolik? 😉.

Sebenarnya saya beruntung karena suami familiar dengan bahasa matematika dan sains karena pelajaran-pelajaran tersebut sesuai dengan background pendidikan dan pekerjaannya. Namun dirinya mempunyai prinsip untuk lebih banyak memaparkan anak dengan bahasa ibu (bahasa Indonesia logat Medan) di rumah agar kemampuan bahasa ibunya tetap terjaga. Awalnya saya bertanya-tanya, benar tidak keputusan suami karena melihat beberapa teman lebih memilih mengajarkan anak dengan bahasa Inggris.

Hal ini menjadi pertanyaan, mana yang lebih efektif? saya penasaran dan ingin mencari tahu, sebenarnya mana yang lebih ideal digunakan untuk proses  transfer of knowledge ke anak-anak.  Akhirnya menemukan beberapa jurnal penelitian yang bisa dijadikan rationale dari pemikiran suami. Salah satunya jurnal penelitian di Malaysia  yang  berjudul Teaching of Mathematics and Science in English : Teachers’  Voices.  Penelitian di  Malaysia tahun 2009  ini mengungkapkan kesulitan guru-guru di sana dalam mengajar matematika kepada siswanya, dikarenakan  para guru tidak terbiasa dengan bahasa akademis matematika, perbendaharaan kata mereka saat itu masih kurang untuk menjelaskan konsep-konsep matematika sehingga inti dari pelajaran tidak tersampaikan dengan baik. Kegagalan guru-guru pada akhirnya akan berpengaruh pada performa siswanya.

Untuk  tercapainya keefektifan saat proses belajar mengajar, faktor bahasa merupakan elemen yang kritis (sangat penting). Perlu dipahami bahwa Bahasa matematika dan sains memiliki kosakata yang berbeda dengan kosakata sehari-hari, baik guru dan siswa harus memiliki frekuensi yang sama dalam bahasa, sehingga pelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tujuan dari proses belajar tercapai.

Memang tidak ada keharusan untuk belajar matematika dan sains wajib dengan bahasa ibu, tetapi sebaiknya pastikan kemampuan  pengajar harus memenuhi  standard tertentu. Menurut Riccomini, Smith, Hughes & Fries (2015), guru yang bertanggung jawab dalam mengajarkan matematika pada anak bilingual, haruslah memiliki background matematika yang kuat, baik dalam memahami isi pelajarannya maupun dalam menguasai metode pengajaran ke siswa (pedagogy), memiliki penguasaan Bahasa Inggris akademis yang baik,  kemampuan bekerja dengan angka dan kemampuan berpikir kritis yang baik.

Kriteria ini tentunya sebaiknya juga diaplikasikan untuk pemilihan guru-guru disekolah bilingual di Indonesia, seiring dengan menjamurnya pilihan sekolah bilingual.  Selain fasilitas sekolah, sebagai orangtua kualifikasi guru sebagai pengajar perlu menjadi  bahan pertimbangan untuk pemilihan sekolah bilingual, antara lain:

  • Apakah sekolah menyediakan guru native? Latar belakang Pendidikan guru, apakah sesuai bidang ilmu yang akan diajarkannya atau tidak?
  • Jika  ternyata sekolah menyediakan  gurunya non native (lokal) yang mampu berbahasa Inggris, sebaiknya harus di cek bagaimana kemampuan bahasa Inggrisnya. Apakah masih dalam level percakapan sehari-hari atau sudah menguasai Bahasa akademis matpel Matematika dan sains.
  • Seperti apa  training yang diberikan sekolah untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris Akademis pada guru-gurunya.  Selain itu  yang tak kalah penting adalah teaching aids yang disediakan sekolah untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

Untuk mendidik guru lokal yang memiliki bahasa matematika dan sains tentunya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Menurut saya, selagi masa transisi sebaiknya pihak sekolah mempertimbangkan penggunaan bahasa pengantar untuk dua subjek mata pelajaran di atas. Jangan sampai terbalik, siswa didiknya yang lebih mahir Inggris nya, sementara gurunya masih struggling untuk memberikan penjelasan sehingga terjadi miskomunikasi dan misinterpretasi terhadap bahan ajar. Coba telaah kembali tujuan awal nya belajar, mendapatkan pemahaman matematika dan sains atau hanya sekedar pembiasaan bahasa Inggris? Adapun Tulisan ini hanyalah sekedar pertimbangan, karena apapun pilihannya semua akan kembali ke tangan kita sebagai orangtua.

Referensi:

http://www.ccsenet.org/journal/index.php/elt/article/view/2380

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: